Friday, December 2, 2016

Wahana Rumah Hantu


Wahana Rumah Hantu

Hari ini Paman akan menceritakan tentang seseorang yang tidak takut dengan hantu yang akhirnya bertemu dengan hantu.

“paman, ceritanya pasti seru kan?”
“tentu saja, keponakanku. Bahkan sangat menarik”

Ada seorang anak bernama Reno dari kecil ia tidak pernah takut dengan wahana rumah hantu. Bisa saja ia mengelilingi rumah hantu sampai sepuluh kali dalam sehari karena ia tahu hantu di wahana seperti itu palsu.

Dino. Satu-satunya teman yang takut dengan rumah hantu, saking takutnya ia bisa menangis histeris sampai terkecing-kencing.
Pernah karena iseng, teman-temanya mengerjai Dino habis-habisan sampai ia menangis dan parahnya Reno yang mengusulkan untuk mengerjai Dino dan mereka meninggalkan Dino sendirian di wahana yang sangat ditakutinya itu.

Sejak kejadian itu Dino berubah. Dino suka tertawa sendiri, melamun dan berbicara sendiri. Ya, ia jadi gila. Dino dimasukan ke rumah sakit jiwa oleh orangtuanya karena bertambah parah. Dan mereka sangat menyesal telah mengerjainya.

Besoknya terdengar berita bahwa ada salah satu pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Dan hari itu Reno pulang malam karena harus mengikuti pelajaran tambahan. “Ya ampun seharusnya aku belajar lebih rajin agar tidak perlu ikut pelajaran tambahan sampai larut malam begini memang sekolah menyebalkan” umpat Reno kepada angin yang berhembus. Tentu saja tidak ada yang mendengarkan.

Tap tap tap
Ada yang mengikutinya malam itu, “Siapa itu?” baru satu gerakan. tapi apa daya ia kalah cepat. Obat bius telah menguasai dirinya.

Saat Reno terbangun. Ia berada di sebuah kereta, kereta yang sempit. Ia sadar ini sebuah taman bermain dan tampaknya kereta ini baru memasuki area rumah hantu. Tempat yang gelap. Tangannya meraba seluruh badan dan matanya memperhatikan sekeliling. Mainan-mainan yang dicat dan dihias seram agar menakuti pengunjung menghiasi lorong panjang ini.

Kereta masih melaju. Suara-suara seram juga bergema seperti halnya rumah hantu biasa. Pengunjung lain di depan juga tampak memperhatikan dengan seksama.

“Waktu berlalu dan sudah 20 menit kereta ini melaju, seharusnya kita sudah keluar. Selama itu kah?” Gumamnya
“Pak” panggil Reno sambil menepuk pundak bapak itu.
“Pak, permisi. Saya ingin tahu kapan wahana rumah hantu ini akan berakhir?” Tapi bapak itu tidak menengok juga.
Ia tau ada yang tidak normal. Ia sudah merasakan hawa yang tidak enak. Tapi ia berusaha tetap tenang.

Selang beberapa waktu bapak itu menoleh ke belakang tapi buluk kuduknya seketika berdiri dan refleks tangannya mendekap mulut. Kepala bapak itu berputar 180 derajat Menatap Reno.
“wajahnya wa-w.. wajahnya sama dengan boneka-boneka di wahana ini, kepala berdarah juga mata yang bengkak. Bau busuk ini Membuatku ingin muntah.”
Kemudian ia berkata dengan senyum menyeringai “Baru dimulai anak muda”
Suara tawa yang menyesakan hati terdengar dari barisan belakang sampai depan. Kepala mereka semua berputar menatap tajam pada Reno.
Mereka semua bukan manusia.

Ia tidak percaya, tidak. Tidak. pasti mereka hanya manusia. Pasti ini hanya mimpi. Ia mencoba menepuk pipinya sendiri.
“auww, sakit”
Iya tau ini bukan mimpi.

Tubuhnya membeku rasanya ia tak sanggup menggerakan kaki atau tangannya. Lidahnya kelu yang bisa ia lakukan hanya merenggut di bangku kereta. Tiba-tiba laju kereta bertambah cepat dan cepat bahkan sangat cepat tapi tak ada yang berteriak selain Reno. Ia memengang erat kereta karena keretanya melaju cepat vertikal ke bawah.

“Aaaaa”

Gubrakk
Kereta jatuh. Mayat-mayat di kereta Berjatuhan dan terlempar ke segala arah. Tidak terkecuali Reno. Ia terlempar jauh, dan jatuh di antara boneka-boneka hantu.
Dingin rasanya dingin ada yang menyentuhnya. Perlahan-lahan Reno mencoba membuka mata.

“ta-t..takut kah k-kamu pa.. da ka mi?”

Matanya tak bisa berkedip karena mayat berwajah putih pucat dan mata merah sekarang sedang mengacungkan pisaunya di depan matanya
“Bon-ne ka nya h-hi hidup, to t-to long jangan bunuh aku” mohon ia kepada hantu tersebut kemudian cahaya menghilang.
Ia pingsan.

Kalimat terakhir yang menyedihkan.

1 bulan kemudian.
“Boneka hantu, boneka, boneka pergi jangan ke sini, aku takut. gelap, aku takut mereka. Tolong aku. Aku ingin pulang”

“kasihan sekali dia, padahal masih muda sudah seperti itu” sambil menatap prihatin ke ruang VIP seorang remaja laki-laki.
“benar, kasihan sekali.” Sahut suster jaga yang kebetulan lewat.
Reno selamat, tapi ia menjadi tak waras dan dimasukan ke rumah sakit jiwa.

“paman ceritanya sangat seram. lalu, paman. Bagaimana dengan Dino? ”
“Dino sangat puas dan senang dendamnya terbalaskan. ia sudah sembuh dari phobianya kemudian ia merantau ke tempat lain, hidup bahagia dan punya keluarga besar”.

No comments:

Post a Comment