Friday, December 2, 2016

Gadis Tepi Mulut Sumur


Gadis Tepi Mulut Sumur

Kami membisu di antara sebuah sekat. Sekat berupa benang merah tipis. Di balik sekat itu, ada kau yang terdiam seribu bahasa menjemput senja yang menyelimuti desa itu. Langkahmu tak hanya datang dari senja penuh kebisuan dan misteri itu. Juga di antara pekatnya kabut dini hari kau terendus oleh penciuman seorang pria garang dengan kepulan asap menemaninya. Langkahmu, tak terenduskan oleh siapapun di antara lelapnya mereka, hanya seorang pria yang berlari ketika aroma langkahmu tercium dan mematikan cerutu itu. Hingga kau terbenam bersama malam yang telah dijemput mentari.

Namanya sih tidak diketahui. Gadis berkepang, berkulit sawo mentah, dengan baju merah muda tengah terpaku menatap senja di tepi mulut sumur. Awalnya, aku hanya basa-basi tatkala aku tak sengaja lewat sumur desa itu dan melihat ia tersenyum pada senja yang menguasai angkasa di desa itu dengan pesona merah meronanya.

“Neng, awas jatuh ke sumur! Siapa yang menolongmu kalau kau jatuh?”.
Dia memalingkan pandangan ke arahku sejenak. Menari-narikan kakinya dan merunduk seraya tersenyum. Lama ia demikian hingga ia tiba-tiba melihatku dan tersenyum seraya mengangguk. Kembali ia melihat senja.
“Sudah mau petang. Pulanglah, Anak gadis. Tidakkah ayah ibumu mencari?”
Ia melihatku tanpa senyum di wajahnya. Lama ia menatapku hingga aku sendiri tak sanggup menahan tatapanku padanya. Aku memilih memalingkan mataku ke arah lain. Hanya angin bertiup yang kudengar di telingaku. Sesekali aku meliriknya, ia pun tersenyum dan mengangguk lagi.
Tak tahu maksudnya. Tak tahu pula apakah pertanyaanku sudah dijawab olehnya. Aku pergi meninggalkannya dan tak lagi memikirkannya.

Ketika aku sudah sampai rumah melihat ayah dan ibu sudah panik menungguku di teras rumah dengan wajah cemas.
“Kemana to, Le, Le?”
“Lah? Kan Mak yang suruh.”
“Wong cuma ke rumah sebelah kok lama. Apa yang menghentikan langkahmu sejenak?.”
Sejenak aku terdiam dan kembalilah memikirkan gadis di tepian sumur yang kutemui menjelang petang. Senyumnya, kebisuan yang membuatku bertanya-tanya dalam benak.
“Sudah tahu petang-petang banyak demit, masih beraninya pulang telat,” sahut ayah sembari mendengus kesal dan menghembuskan kepul cerutu. Matanya menatapku tajam.
“Lah, Pak, Mak. Tadi itu aku lama karena ketemu sama anak gadis hendak bunuh diri.”
“Eh! Bunuh diri? Siapa? Seperti apa ciri-cirinya?”
“Am… Masih gadis, rambut berkepang, kulit sawo matang. Jika diajak bicara, diam terus. Makanya aku tanyai itu, lamanya menunggu jawabannya. Toh, akhir-akhirnya hanya petanglah yang mengakhiri penantian jawabanku.”
“Lah, Buk, itu anak aneh yang kerap kita bicarakan dulu. Anaknya siapa juga nda tahu. Rumahnya mana pun tak tahu. Dulu, dia banyak dibicarakan warga desa. Dia bagaikan manusia senja.”
“Oh! Iya, Pak. Habisnya, dia itu hanya bisa ditemui di saat-saat senja begitu kok. Diam terus kan?”
Aku mengangguk sembari mengernyitkan kening. Aku menengok ke arah sumur itu.
“Tak usah digubris gadis itu. Takutnya itu utusan demit,” sahut ayah menghempas tatapanku.
Aku merunduk dan memutuskan masuk ke rumah. Menerbenamkan tubuh di sofa merah di depan TV. Aku menghadap ke TV, namun pikiranku terus mencari-cari siapa gadis itu. Yang jelas, gadis itu semakin menggali rasa penasaranku. Semakin mendalam. Sepertinya, penantian jawabanku yang sia-sia tak menerbenamkan niatku mencari tahu siapa dia.

“Le… Itu acara kesukaanmu to?”
“Nda bagus, Mak.”
“Lho? Biasanya serius nonton tuh. Ini? Ndak?”
Aku menggeleng-geleng. Memutuskan menyeruput kopi panas yang ibu hidangkan untuk dinikmati sembari nonton Tv bersama. Tradisi di gubuk ini memang begitu. Aku dan ibu menonton Tv, ayah sibuk dengan cerutunya dan duduk di teras, entah apa yang direnungkan sehari-harinya di luar sana. Hingga lolongan anjing semakin nyaring menjelang dini hari, ayah barulah masuk ke rumah tatkala kami semua telah beristirahat.
“Apa to, Le? Kepikiran siapa? Dibikin galau? Perempuan?”
“Endak lah, Mak. Memangnya aku menjalin hubungan dengan siapa?”
“Am… Dina? Anak sebelah. Cantik, ulet walaupun nda sekolah. Nasibnya juga sama-sama dengan kita. Melarat.”
“Terus, Mak?”
“Ya… Emak kan hanya menebak. Tapi, ya, sekalian membantu pikiranmu ke arah… Jodoh.”
“Nda, nda! Dina? Lah…”
“Kok kamu seperti kewalahan sama dia? Cewek kalem itu. Bapakmu, suka kamu sama dia. Katanya, cocok.”
“Cocok? Jauh dari kata cocok, Mak.”
Aku meninggalkan sofa merah dan menuju ke kamar. Temaram, pengap, sempit, berantakan, berdebu. Layaknya itu huniannya laba-laba dan nyamuk.

Aku telah melewatkan tradisi kami turun-temurun. Tv kini lebih sepi penonton. Bahkan, malam terasa lebih cepat menuju dini hari. Lolongan anjing yang biasa nyaring berbunyi di jam-jam dini hari, lebih cepat menjemput ayah untuk pergi ke pembaringan. Teras, Tv, sofa, sepi. Kopi yang biasanya tinggal ampas pun hanya sedikit berkurang, hingga dingin dan pagi menjemput, hanyalah lalat yang menyeruputnya. Dan hanya lalat yang menggenang mati di atas air hitam pada cangkir mungil itu. Aku telah membunuh makhluk itu karena telah meninggalkan tradisi ini walaupun hanya sekali.

“Kamu telah membunuh makhluk Tuhan,” ujar ibu tiba-tiba tepat di telingaku ketika aku duduk di teras menikmati embun pagi hari.
“Apa sih, Mak?”
“Lalat. Kamu telah membunuh satu lalat oleh karena kamu tak menghabiskan kopi yang ibu buat. Lihat!”, ibu menyodorkan kopi dingin yang digenangi seekor lalat, mati. Aku terdiam dan merunduk.
“Bukan saja membunuh lalat ya! Bisa-bisa kalau kau teruskan tingkahmu ini, ibu bisa seperti lalat dalam genangan kopi itu!”
Aku mendengus kesal mendengar omelan ibu itu. Sepertinya tradisi itu sudah setubuh dengan keluarga kecil melarat ini. Kopi, lalat, apa lagi?

Sore itu, ibu menyuruhku mengantar bekal berbuka ke rumah Dina. Katanya sih mau berbagi. Kenapa harus ke rumah Dina? Aku mengendus bau-bau perjodohan. Karena aku melarat, juga harus dengan yang melarat? Kecantikan Dina yang diakui kedua orangtuaku saja bagaikan wajah lalat yang mengambang pada kopi yang kuseruput. Pembawa laknat.

Ke rumah Dina memang agak jauh jalannya walaupun lewat jalan pintas, apalagi kalau tidak lewat jalan pintas. Sudah pasti jauh dan menguras banyak waktu.
Aku mengendap-endap lewat jalan panjang yang melewati sumur tempat aku bertemu gadis yang kata bapak sebagai utusan demit. Lagipula masih pukul 5 sore. Aku bergegas pergi dengan langkah yang lebih cepat sebelum petang memisahkan aku dan gadis itu.
Melewati sumur itu, masih banyak gadis-gadis mencuci baju disana. Suaranya memekik di telingaku.
“Mas Bram! Mau kemana, Mas?”, sahut salah satu gadis di antara 5 gadis disana. Lainnya tertawa manis menatapku.
“Mas, yang dibawa itu apa? Makanan? Kasih dong ke kita-kita. Nanti kita makan bersama ya, Mas.” Begitu yang kudengar. Hanya kubalas senyum. Aku bahkan malu akrab dengan mereka. Dewi, Ema, Lestari, Rara dan Sania. Mereka aktif dalam kegiatan pemuda. Dulu kerap kali menjemputku di rumah mengajak rapat karang taruna. Aku selalu bersembunyi di ranjang dan menyuruh ibuku untuk bilang aku tidur, capek. Mereka lalu pamit meninggalkan rumahku dengan mencibirku sepanjang jalan menuju tempat rapat.
“Mas, ingat ya! Besok kita rapat karang taruna ya. Mas Bram kami tunggu!”
“Calling calling, Mas kalau butuh dijemput kami berlima,” begitulah suaranya nyaring dari kejauhan. Kesal mendengar suara gadis-gadis lajang penggoda itu, melihat jarak sudah jauh dari mereka lalu aku berteriak,
“Bodo amat, Mblo!”
Lalu, tak kudengar lagi mereka berkata-kata padaku. Tapi, jelas kurasa, mereka mencibirku disana.

“Oh! Kamu ya… Itu apa?”
“Ini. Bekal buka dari ibuku. Buat kamu sekeluarga.”
“Am… Kok tumben memberi ke aku?”, tatapannya menyiratkan harapan.
“Mak ku tuh! Jangan tanya aku! Sudah ya, aku pulang.”
“Eh, Mas! Ayo, berbuka.”
“Sudah kenyang.”
“Lah… Hati-hati, Mas.”
Aku diam dan pergi meninggalkannya. Dari kejauhan, ia masih di depan pintu rumahnya. Menyaksikan langkahku yang semakin jauh darinya. Dan hilang bersama pepohonan tinggi menjulang itu.
Aku sedikit lebih cepat berlari. Mengejar waktu bertemu gadis itu. Namun, aku berhenti sejenak menyaksikan 5 gadis bodoh itu berjalan pergi meninggalkan sumur dan terdengar cibiran,
“Mas Bram itu lho! Ganteng ganteng apa nda doyan cewek ya?”
“Nda tau tuh! Nda bisa lihat ya kita yang cantik cantik begini? Tinggal milih lho.”
“Juteknya menyebalkan sekali. Masa sih kita ngomong baik-baik, manis-manis bagai madu, eh dijawabnya kasar banget. Masih mending cuma senyum, lah tadi…”
Lalu, perlahan mereka pun menjauh. Sudah kuduga mereka mencibirku tak habis-habisnya hingga berbusalah mulut mereka.

Ketika hendak melangkah ke sumur, aku terhenti tiba-tiba menyaksikan seorang gadis berbaju merah muda berjalan dari antara ilalang-ilalang dengan tangan kosong, tatapan kosong dan duduk di tepi sumur. Lalu, ia menatap ke angkasa tepat senja menjemput kehadirannya. Ia mulai menari-narikan kakinya dan tersenyum kecil. Tiba-tiba, ia menengok ke arahku yang saat itu diam-diam mengintainya. Menatapku tajam dan kesal.
“Am… Maaf, tidak bermaksud mau aneh-aneh padamu.”
Ia hanya diam dan mengangguk, tak lupa tersenyum.
“Begini. Aku hanya ingin menjadi temanmu saja kok. Bukankah kesepian itu menyedihkan?”
Dia menatapku dan bibirnya seperti hendak mengucap sesuatu yang benar-benar aku nantikan.
“Te… Tem…man?”
“Iya, teman. Temanmu.”
Lalu, dia sedikit minggir dan menepuk tepian mulut sumur seolah mempersilakanku untuk duduk menemaninya. Tanpa menunda, aku bergegas duduk di sampingnya. Bahkan, aku sudah tak menghiraukan bahwa aku sedang duduk di tepi sumur, tepi mulutnya bahkan. Yang kupikirkan, itu hanyalah bangku di tengah taman untuk kami duduk menyantap senja.
“Kok main kesini cuma waktu senja?”
Ia menggelengkan kepala dan merunduk.
“Selama ini, tidak adakah lelaki lain yang menemanimu disini selain… aku?”
Lalu, dia menggelengkan kepala dan tersenyum dengan indahnya.
“Kamu per…perta..ma”
“Rum… Rum.. Rumahmu?”, lalu dia menunjuk ke arah rumahku. Aku bahkan tak tahu mengapa tiba-tiba ia demikian.
Aku mengangguk. Dia tersenyum dan mengangguk.

Aku tersenyum lega. Memandang senja yang makin surut, aku menikmatinya. Menikmati suara lembut walau terbata-bata mendesing di telingaku. Terasa begitu hangat berada di sisinya walau angin berhembus dengan agak kencang. Menyapu dedaunan layu di antara rerumputan. Gemerisik ilalang bersenggolan satu sama lain semakin menambah harmonis suasana itu. Namun, tidak lama itu semuanya lenyap,

“Bram! Pulang! Jangan main ke sumur!”, ayah datang menjemputku dengan wajah marah. Tangannya menyeretku pergi dan kudengar gemerisik di antara ilalang-ilalang itu. Seperti suara seseorang berlari disana. Namun, genggaman kencang ayah hingga menyentuh denyut nadiku tak dapat melepaskanku untuk mengejar gadis itu. Aku tak ingat kapan ia berlari meninggalkan mulut tepi sumur itu. Ia hilang tatkala ayah menjemputku dengan amarah bersamaan petang menjemput desa itu menuju gelap malam.
“Anak tak bisa dipercaya!”, hentak keras ayah di teras membanting cerutunya. Ia membelalak menatapku terdiam di sofa di samping ibu yang mengelus pundakku agar tetap tenang.
“Kamu kenapa main di sumur itu, Le?” Tanya ibu menahan tangis melihat ayah yang perlahan dikuasai setan.
“Memangnya kenapa? Pulang telat sekali pun tak boleh? Mengapa?” Tanyaku berdiri menantang ayah. Tak biasanya aku seberani ini. Hanya saja, suatu jiwa yang tak kukenal menghasutku untuk melawan ayah. Aku mengendus bau darah anyir.
“Petang itu hari bagi demit berkuasa di desa ini! Apalagi di tepi sumur!”
“Demit? Sama sekali tidak beriman ya? Tidak adakah Tuhan di hatimu, Pak? Kok sama demit begitu mengagungkan?”
Suasana hening sejenak. Ayah mengisap cerutu lagi. Kepulnya menyengat di ruangan gubuk ini.
“Bukan begitu, Le. Petang tiba, kita harus di rumah. Kita harus melakukan tradisi kita sehari-hari. Ayah dengan cerutu dan terasnya. Ibu dan kamu menonton Tv sembari kamu menyeruput kopi sampai habis.”
“Wah! Tradisinya begitu diagungkan ya? Kopi, cerutu, kepul cerutu, Tv, teras, sofa. Bahkan lalat! Lalat? Diagungkan? Astaga! Pantas saja anaknya hendak dibawa menuju laknat!”

Semakin menyengat bau darah anyir itu, semakin ayah menatapku kejam layaknya hendak membunuhku, menikamku.
Dan di balik kepul cerutu ayah, muncullah sesosok gadis. Berkepang, berkulit sawo matang, namun kali ini baju merah mudanya dihiasi bercak darah, matanya merah, airmatanya pun darah. Dan tidak ada senyum yang terlukiskan di bibirnya. Hanyalah goresan goresan luka di tubuhnya. Anjing-anjing melolong lebih nyaring, ibu menangis demikian kencang, ayah terdiam membelalak tak berkedip tatkala sosok gadis itu berpindah di depannya dan berkata lirih,
“Ayah…”

No comments:

Post a Comment